Masih membekas rasanya perkataan Seorang ustad bahwa didunia
ini sesungguhnya hanya terdapat dua jalan, yaitu jalan yang mulus penuh dengan
keindahan tanpa sedikitpun halangan dan rintangan jika kita melewati jalan ini
tentu saja kita akan merasa begitu nyaman namun sayang diujung jalan ini akan
berakhir dengan kesengsaraan. Dan jalan yang kedua adalah jalan yang penuh
dengan tantangan dan rintangan, berbatu dan menanjak tentu saja melewati jalan
ini sangat beresiko tetapi di ujung jalan ini kita akan menemukan sebuah
kebahagiaan yang tiada duanya dan jalan ini merupakan jalannya para nabi
terdahulu bahkan jalannya rasulullah SAW dan para sahabatnya dan jalan ini
adalah jalan dakwah. Jalan yang saya maksud diatas tentu bukanlah jalan dalam
arti yang sebenarnya namun merupakan sebuah perumpumaan, kita dalam mengarungi
kehidupan ini.
Kemudian saya
berpikir dimanakah posisi saya saat ini? Apakah berada dijalan yang ditempuh
oleh rasulullah SAW bersama para sahabatnya?
Sebenarnya hari ini saya telah memutuskan jalan yang saya
akan tempuh, bahkan saya sudah mulai menapakinya namun terkadang pertanyaan
diatas muncul menyelimuti pikiran ini. Aktivis dakwah julukan yang biasa di
berikan kepada orang-orang yang memilih jalan ini. Pantaskah saya? Dakwah
adalah jihad, segala bentuk pengorbanan dituntut dari seorang yang ingin
berdakwah mulai dari waktu, harta bahkan jiwa sekalipun. Seluruhnya menjadi
konsekuensi yang harus diberikan saat memilih jalan ini, dakwah jauh lebih
penting ketimbang diri si pendakwah itu sendiri. Begitulah idealnya. Namun hari ini saya? Apa
yang telah saya korbankan? Waktu? Saya rasa belum, masih banyak waktu luang
saya yang terbuang hanya dengan bercanda, tidur dll. Harta? Saya rasa juga
belum. Apalagi jiwa masih sangat-sangat jauh saya rasa.
Maka dari itu untuk di katakan seorang aktivis saya merasa
masih banyak kekurangan, sepertinya untuk menyandang gelar aktivis mungkin
belum pantas, karena sampai saat ini peran saya masih sangat kecil, sebagian
besar pikiran dan tindakan yang saya lakukan
sering di sibukkan dengan urusan dunia, sehingga urusan agama masih
sangat kurang, mungkin hanya waktu sisa yang sering saya gunakan untuk kegiatan
agama, padahal waktu untuk urusan agama merupakan waktu yang harus diutamakan.Mengajak
kawan-kawan untuk sholat, namun sholat wajib sendiri saja masih sering tidak di
kerjakan. jadi, apakah aku seorang aktivis dakwah??? aktivis atau bukan saya rasa itu tidak penting lagi, yang penting saya harus meperbaiki diri saya dan juga mengajak kawan-kawan saya untuk sama-sama memperbaiki diri.
by: 130254241028
Sign up here with your email
